Kekuatan Opini Publik

April 12, 2008

Kekuatan Opini Publik
Eddy Yehuda, Drs.,M.S. <Eddy-Yehuda@YAHrapha.web.id>

Opini publik adalah pendapat sekumpulan orang mengenai sesuatu hal tertentu. Hal tertentu itu, bisa mengenai issue, produk, orang, lembaga, & lain sebagainya. Tentang issue, yang dimaksud adalah sesuatu persoalan atau pokok permasalahan atau kejadian yang hangat dibicarakan. Sesuatu persoalan atau yang hangat dibicarakan biasanya yang sedikitnya mengandung opini yang berlainan. Jika pendapat atau opini itu didukung oleh sebagian besar orang, Clyde L. King menyebut sebagai penilaian sosial, maka penilaian sosial itu merupakan opini publik. Sebab opini publik tersebut sudah merupakan sikap orang-orang mengenai sesuatu soal. Leonard Dubb menyatakan bahwa opini publik itu berhubungan dengan sikap manusia yaitu sikap pribadi maupun kelompok.
Negara dalam keadaan krisis kepercayaan seperti di Indonesia sekarang ini, opini publik mampu menempatkan kedudukan yang tinggi. Demonstrasi yang marak terjadi di kampus-kampus perguruan tinggi di Indonesia telah menempatkan begitu diseganinya publik kampus sehingga opini publik yang berasal dari kampus ini menjadi berita utama media massa di Indonesia.
Opini publik menampakkan kekuatan yang besar sekali sebagai sarana pemersatu atau kesatuan menghadapi segala sesuatu yang dianggap tidak berjalan sebagaimana mestinya di negara Indonesia. Opini para mahasiswa di kampus-kampus terkenal, baik PTN maupun PTS menjadi perhatian utama untuk pemegang kebijaksanaan pemerintahan Negara Indonesia. Suara atau opini publik kampus, menjadi pemberitaan di media massa pers baik surat kabar, majalah-majalah berita, ataupun internet. Demikian juga pada media massa televisi, hampir setiap stasion televisi swasta menayangkan gerakan mahasiswa di kampus-kampus yang berisi pernyataan mereka dalam menghadapi krisis kepercayaan terhadap pemerintah. Opini mahasiswa ini adalah opini publik kampus menghadapi situasi ekonomi, politik, & sosial-budaya yang melanda Indonesia. Krisis kepercayaan pada pemerintah ini tidak dapat membentuk opini publik keseluruhan masyarakat yang menaruh perhatian pada situasi yang berat di negara Indonesia. Opini publik yang berasal dari gerakan mahasiswa ini merupakan kekuatan yang patut diperhatikan oleh pemerintah dengan aparaturnya dalam menentukan kebijaksanaan yang tepat untuk mengatasi segala permasalahan yang melanda negara Indonesia. Keputusan yang tepat yang akan diambil pemerintah, patut memperhatikan kekuatan opini publik yang berasal dari gerakan mahasiswa. Opini publik yang berasal dari kampus jangan dicurigai sebagai sesuatu yang membahayakan, tetapi pemerintah perlu memasukkan sebagai suatu masukkan yang berharga.
Secara lebih spesifik berikut akan dijelaskan bagaimana kekuatan opini publik secara sosiologis, psikologis, & politis.

1. Kekuatan opini publik secara sosiologis
Manusia sebagai makhluk sosial sudah tentu akan berhubungan dengan manusia yang lain, baik sebagai pribadi maupun dalam kelompok bersama dengan individu atau kelompok-kelompok lainnya. Dalam kehidupannya sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu memelihara, meningkatkan kehidupan yang harmonis di antara sesamanya. Sebagai anggota masyarakat manusia akan juga meningkatkan kerja sama dengan manusia lain sebagai anggota kelompok atau organisasi, dalam mencapai tujuannya meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Tindakan-tindakan manusia dalam memelihara kehidupan itu akan berpengaruh pada kehidupannya sebagai anggota masyarakat. Karena itu dalam berhubungan dengan manusia lain, tindakan-tindakan manusia itu perlu memperhatikan lingkungan & akan memperhatikan lingkungan yang berhubungan dengan permasalahan yang timbul. Hal itu terjadi mengingat tiap manusia mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan yang muncul. Pengaruh kelompok atau organisasi juga akan turut mewarnai pandangannya terhadap masalah-masalah yang menimpanya, apalagi kalau masalah itu mengandung hal yang kontroversial. Persoalan atau masalah yang dapat menimbulkan bermacam opini itu biasanya yang menyangkut kepentingan umum, seperti yang terjadi saat sekarang di Indonesia. Krisis tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan masalah lainnya, karena krisis itu juga menimbulkan pengaruh pada bidang-bidang lainnya. Sastroputro menyatakan bahwa perbedaan pandangan manusia itu bila mana orang berbicara tentang:
1. Demokrasi,
2. kehidupan yang layak,
3. keputusan yang adil,
4. kemakmuran yang tinggi,
5. hidup/pesta sederhana,
6. batas kenakalan remaja yang wajar,
7. harga-harga yang murah,
8. & sebagainya (Sastroputro, 1987, 118).
Masalah-masalah tersebut jika muncul atau dibicarakan orang, hampir semuanya bisa mendatangkan perbedaan-perbedaan opini. Persoalan sembilan bahan pokok yang akhir-akhir ini mengalami kenaikan yang sampai dua-tiga kali lipat, kecuali merupakan masalah ekonomi, dampaknya menyangkut berbagai masalah sosial yang meresahkan rakyat. Kurs Dollar A.S. terhadap Rupiah yang sampai saat ini tidak menentu menyebabkan nilai Rupiah sangat lemah sehingga harga barang-barang impor seperti suku cadang kendaraan bermotor, barang-barang elektronika, bahan baku yang diperlukan industri dasar terutama bahan baku obat-obatan, plastik, & lain sebagainya naik sangat tajam. Akibat yang dirasakan dengan kenaikan harga barang-barang itu berdampak sosial yang sangat dalam. Dengan banyaknya pabrik-pabrik yang tidak sanggup lagi memproduksi barang-barang karena kesulitan mendatangkan bahan baku & L/C yang datang dari pengusaha-pengusaha atau bank di Indonesia tidak diterima atau ditolak, sedangkan untuk membeli secara tunai tidak ada dananya. Hal ini menyebabkan banyak pabrik mengkhawatirkan produksinya, & dampaknya adalah PHK pegawai. Pemutusan hubungan kerja ini dampaknya secara sosial sangat terasa. Persoalan ini menyebabkan timbulnya opini di kalangan masyarakat, yang secara sosiologis tidak bisa selesai dalam waktu tiga-empat bulan. Timbulnya opini dalam mengatasi permasalahan ekonomi, mengundang banyak opini-opini lain di kalangan para pakar. Opini para pakar itu menyebabkan pembentukan opini yang lebih besar sehingga melahirkan opini publik yang sesuai dengan cara pandang & pendekatan masing-masing latar belakang keilmuan para pakar itu sendiri. Hal ini dapat dipahami karena tiap individu mempunyai alasan masing-masing dalam menanggapi masalah yang muncul dalam masyarakat. Jika opini kelompok tertentu diyakini sebagai opini yang dirasakan benar oleh individu dalam masyarakat, maka akan menjadi opini publik yang kuat & akhirnya dapat diterima berbagai pihak atau kelompok lainnya. Opini publik yang didukung oleh kelompok-kelompok lain di luar kelompoknya sendiri, ini akan memberikan kekuatan terhadap individu atau kelompok dalam meresponsi permasalahan yang ada. Sementara persoalan itu sendiri sampai saat ini belum terpecahkan, imbasnya di bidang sosial makin terasa, & ini menyebabkan timbul kembali permasalahan-permasalahan sosial & budaya yang lain. Karena itu opini publik secara sosiologis mempunyai kekuatan yang kuat di masyarakat karena tiap individu atau kelompok masing-masing akan berhubungan & saling berinteraksi satu sama lain.

2. Kekuatan opini publik secara psikologis
Opini publik menurut Dubb merupakan sikap orang-orang mengenai suatu soal. Sikapnya itu adalah sikap manusia selaku pribadi maupun kelompok (S. Soenarjo, 1997, 28). Dari pendapat Dubb tersebut jelas bahwa dalam sikap seseorang itu pasti akan turut berpengaruh keseluruhan latar belakang orang tersebut. Dengan demikian itu berarti jika seseorang akan melahirkan opini terhadap suatu permasalahan, maka sikap orang tersebut adalah hasil dari rangsangan dari dalam manusia itu sendiri, sehingga apapun dari orang itu, misalnya pendidikan, pengalaman, perasaan, & pengetahuannya akan turut memberi warna terhadap opininya. & opini yang dihasilkan dari sekumpulan orang itu akan menjadi opini publik orang-orang itu. Astrid Soesanto (1975) menyatakan bahwa manusia pada umumnya mempunyai keinginan untuk mendasarkan tindakannya sebanyak mungkin atas pendapat umum (opini publik). Selanjutnya Soesanto menyatakan bahwa antara opini publik & sikap-sikap pribadi mempunyai hubungan yang erat. Pengalaman pribadinya menentukan sikap & sikapnya itu bergantung juga pada pengalaman masyarakatnya sendiri, yaitu lingkungan yang memberi pada individu norma-norma tentang segala sesuatu yang benar & salah. Jadi secara psikologis sikap seseorang itu akan mempengaruhi segala opini yang dihasilkannya. Opini publik baru muncul jika ada permasalahan atau persoalan yang menyangkut kepentingan orang banyak/kelompok tertentu. Masalahnya itu sendiri yang menghendaki pemecahan yang segera, karena jika masalah yang timbul itu tidak diselesaikan akan menyebabkan masalah-masalah lain yang lebih rumit & menimbulkan masalah lain yang lebih kompleks. Permasalahan yang menyebabkan adanya individu-individu yang merasa kurang puas atau tidak senang terhadap masalah yang muncul itu mengakibatkan timbulnya opini yang juga bermacam-macam. Opini yang timbul bergantung pada luas tidaknya masalah, menyangkut kepentingan orang banyak atau individu tertentu dalam hubungannya selaku makhluk sosial yang bermasyarakat. Opini yang timbul dari individu mengenai suatu kejadian atau masalah-masalah lain, biasanya akan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal yang ada pada diri komunikator seperti; pendidikan, pengalaman, status diri, penghasilan. asal dirinya, dst. Sehubungan dengan itu secara psikologis opini seseorang itu kekuatannya bergantung kepada orang lain yang diajak berdiskusi atau dikemukakan pada kelompok yang lebih besar. Seandainya kelompok yang lebih besar itu mau menerima atau meyakini opini itu benar, sebagai suatu pikiran yang telah diterima sebagai pikiran umum, maka opini itu akan menjadi opini publik. Opini publik yang terbentuk itu akan mempunyai kekuatan yang besar, apa lagi orang yang mempunyai opini itu dari lapisan tertentu misalnya pemuka pendapat atau orang-orang yang dianggap mempunyai kredibilitas tertentu dalam masyarakat. Sebaliknya jika seseorang mempunyai pengetahuan mengenai suatu masalah & dapat mempertanggungjawabkan buah pikiran mengenai sesuatu masalah tersebut & ia tak ada kesempatan untuk mengemukakan kepada orang lain, maka ia akan menyimpan suatu perasaan tidak enak atau tidak terpuaskan hatinya. Memang seharusnya suatu opini yang hendak dikemukakan sebelum diutarakan perlu mempertimbangkan juga opini atau pendapat orang lain. Opini yang akan dikemukakan sudah sepatutnya perlu dipikirkan terlebih dahulu, sehingga jika bertentangan dengan yang berlaku umum dapat dihindari. Sebaliknya juga jika sesuai dengan kaidah-kaidah umum, sehingga apa yang dikemukakan itu mendapat tanggapan yang positif itu memperlihatkan bahwa opininya bermutu. Dengan mempelajari opini publik seseorang dapat menentukan atau memperkirakan tindakan apa yang perlu dilakukan, sehingga kehati-hatian perlu dipertimbangkan.
Dengan demikian secara psikologis opini publik itu sebenarnya sangat dipengaruhi oleh pribadi-pribadi yang mempunyai kedudukan atau tempat dalam organisasi profesi atau lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sikap & perilaku dari seseorang yang mempunyai kedudukan yang baik dalam organisasi profesi jika bisa memanfaatkan situasi & berlaku jujur dalam profesinya akan sangat dihargai & dihormati oleh segenap anggota masyarakat. Karena itu apapun tugas pekerjaan yang diemban seseorang jika dilakukan dengan berpijak pada kepentingan umum, apapun opini yang dikeluarkannya akan dianggap mewakili profesi di belakangnya. Ini berarti bahwa opini publik yang dihasilkannya akan sangat mempunyai kekuatan yang penting.

3. Kekuatan opini publik secara politis
Opini publik dalam lingkup kegiatan politik dapat dibentuk oleh perilaku tokoh-tokoh politik. Kemampuan berkomunikasi para tokoh politik merupakan kunci pokok keberhasilan membentuk opini publik di berbagai lapisan masyarakat. Pihak pemerintah tentu selalu menginginkan adanya opini publik yang mendukung segala kebijakan pemerintah karena dengan segala usaha akan selalu menciptakan suasana seperti yang diharapkannya. Hal itu dilakukan pemerintah agar masyarakat pada umumnya tetap mendukung & melaksanakan semua program yang telah disiapkan & ditetapkan melalui undang-undang (U.U.).
Pemerintah mengharapkan agar publik yang mempunyai kekuatan dalam opininya tetap berpihak & mau menjalankan segala sesuatu yang berhubungan dengan segala usaha pembangunan. Opini dari publik-publik yang dominan dalam masyarakat yang kemudian menjadi opini publik khusus atau tertentu itu perlu dipelihara, dibina, & dipupuk agar tetap dapat mendukung pemerintah. Publik yang dimaksud dalam kegiatan politik misalnya: kaum cendekiawan yang kebanyakan berasal dari kampus, kaum profesional sesuai dengan bidangnya, pemuka-pemuka agama dengan organisasi keagamaanya, & kaum wanita dengan organisasinya yang cukup banyak. Saat sekarang ini adalah para mahasiswa dari berbagai kampus baik negeri maupun swasta dengan organisasi kemahasiswaannya, & banyak lagi yang lain yang bisa melahirkan opini sesuai dengan publiknya.
Opini dari publik-publik khusus tersebut tidak bisa diabaikan oleh pemerintah yang sedang membangun seperti Indonesia, apa lagi dalam keadaan krisis seperti saat sekarang. Menyepelekan opini dari mereka bisa mengakibatkan kurangnya dukungan dari publik-publik tersebut. Opini publik dari kelompok-kelompok khusus itu muncul begitu saja, karena itu pemerintah sebenarnya perlu bersyukur, dengan tidak mengeluarkan biaya, mendapatkan masukan-masukan dari masyarakat melalui kelompok-kelompok khusus tersebut. Pemerintah dengan aparat terkait tinggal meneliti & mempelajari opini-opini itu, kemudian menyusun program perbaikan atau cara-cara penanggulangan dengan segera. Respons yang positif dari pemerintah secara terbuka diperlukan agar publik yang memberikan opininya merasa diperhatikan. Memang ada opini publik dari kelompok-kelompok khusus itu tidak selamanya didukung oleh fakta yang benar, itu tidak menjadi persoalan karena opini itu bukan suatu fakta, maka kebenarannya perlu diteliti. Adanya masukan itulah yang perlu diperhatikan pemerintah, karena untuk opini yang faktual & tepat, harus diciptakan & pasti mengeluarkan biaya. Sebenarnya di Indonesia ba& yang memberi masukan bagi pemerintah sudah ada misalnya DPA, juga DPR jika berfungsi dengan baik dapat memperhatikan opini publik dari kelompok-kelompok khusus itu, hingga dalam membuat U.U. yang menjadi pekerjaannya juga memperhatikan aspirasi rakyat yang disalurkan melalui organisasi-organisasi kemasyarakatan yang memberi masukkan. Opini publik secara politis walaupun tidak selalu berdasarkan fakta & tidak berdasarkan diskusi di antara publik-publik yang ada dalam masyarakat, apa lagi diskusi sosial di antara publik-publik tertentu misalnya para mahasiswa terhadap keadaan ekonomi negara, tetap secara moral memiliki kekuatan yang diyakini oleh segenap lapisan masyarakat. Secara kualitas opini publik dari kampus ini memang mungkin kurang berdasarkan pemikiran yang matang, karena memang opininya berasal dari tindakan atau pemikiran yang spontan. Pemikiran spontan itu tidak berarti kurang mutunya, karena para mahasiswa mengeluarkan opininya berdasarkan “waktu” yang cukup lama merenungi masalah yang muncul dalam masyarakat. Karena itu sewajarnya pemikiran yang berbentuk opini publik kampus itu mendapat tempat bagi pengambil keputusan dalam membuat kebijakan atau keputusan dalam menanggapi situasi yang melanda negara, lebih-lebih situasi yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia yang mengalami krisis. Sudah barang tentu walaupun opini publik kampus itu terjadi dengan spontan, tetapi jika itu berlangsung hampir di kota-kota besar yang memiliki perguruan tinggi, selayaknya diyakini sebagai usaha para mahasiswa yang ingin melihat negaranya maju & terbebas dari krisis.
Opini publik kampus tidak & bukan satu-satunya yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Sebab ternyata yang memiliki perhatian terhadap negara dalam krisis seperti di Indonesia ini juga dari publik-publik lain, misalnya dari lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya seperti dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Lembaga ini terus memperjuangkan nasib para konsumen di Indonesia. Djoenaesih Sunarjo (1987, 81) mengemukakan secara politis mengapa opini publik dipelajari, karena bagi politisi akan mengetahui apa yang diinginkan oleh lawan politiknya didukung atau tidak oleh pengikutnya & bahkan politiknya dapat digunakan untuk menekan lawan. Sebaliknya dengan adanya opini publik akan diketahui pikiran atau siasat dari lawan atau saingan.
Mempelajari kekuatan opini publik seperti yang telah diutarakan, baik secara sosiologis, psikologis, maupun politis mempunyai banyak keuntungan dari pada kerugian, sekalipun yang namanya opini publik menurut Adinegoro (dalam Sunarjo, 1987, 27) tidak berdasarkan pemikiran yang masak atau kurang berpikir jauh ke depan, tidak ada organisasinya, tidak ada pimpinannya & tidak bergerak cepat, tetapi jika dilihat dari kefaktualannya artinya sudah terjadi kejadiannya, maka opini publik memberikan manfaat-manfaat yang cukup banyak. Sastroputro (1987, 119-123), memperinci kekuatan opini publik, sbb.:
1. Opini publik dapat menjadi suatu hukuman sosial terhadap orang atau sekelompok orang yang terkena hukuman tsb.
2. Opini publik sebagai pendukung bagi kelangsungan berlakunya norma sopan santun & susila, baik antara yang muda dengan yang lebih tua maupun antara yang lebih muda dengan sesamanya.
3. Opini publik dapat mempertahankan eksistensi suatu lembaga atau bahkan bisa juga menghancurkan suatu lembaga.
4. Opini publik dapat mempertahankan atau menghancurkan suatu kebudayaan.
5. Opini publik dapat pula melestarikan norma sosial.
(c)Eddy Yehuda

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: