Kelompok Primer, Pengaruh Personal pada Opini Publik

April 12, 2008

Kelompok Primer, Pengaruh Personal pada Opini Publik
Eddy Yehuda, Drs.,M.S. <Eddy-Yehuda@YAHrapha.web.id>

1. Kelompok primer & jaringan komunikasi
Manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi dalam kelompoknya, tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri dalam dunia ini, karena sebagai makhluk sosial, manusia harus berhubungan satu dengan yang lain. Manusia berbeda dengan binatang, pada sebagian besar binatang seperti anak ayam, walaupun baru beberapa hari dilahirkan ia langsung bisa mencari makan sendiri. Manusia untuk hidup sendiri tanpa orang lain memerlukan waktu yang lama sekali. Seorang bayi untuk makan, berjalan, & bermain-main membutuhkan bantuan orang lain, untuk itu ia harus berhubungan dengan yang lain. Manusia yang dibiarkan hidup sendiri tanpa berhubungan dengan orang lain, mungkin hanya dapat bertahan untuk beberapa lama, selanjutnya jika dibiarkan untuk jangka waktu tertentu, perkembangan jiwanya akan terganggu. Soekanto (1982, 111) mengatakan bahwa manusia mempunyai hasrat atau keinginan pokok, yaitu:
1. Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya.
2. Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.
Untuk dapat memenuhi kedua keinginan itu, manusia perlu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, & perlu menggunakan akal pikirannya dengan jernih & penuh perhatian. Manusia dalam hubungannya dengan yang lain akan saling berinteraksi atau berkomunikasi satu dengan yang lain. Bentuk komunikasi yang dilakukan bergantung pada komunikannya. Jika berkomunikasi hanya dengan satu orang saja, maka itu termasuk kelompok primer, & bentuk komunikasinya adalah komunikasi antar persona atau face to face communication, di mana hubungan antara anggota-anggotanya rapat sekali satu sama lain. Menurut Charles Horton Cooley (dalam Soekanto, 1982, 121) kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang ditandai ciri-ciri kenal mengenal antara anggota-anggotanya serta kerja sama erat yang bersifat pribadi. Salah satu hasil hubungan yang erat & bersifat pribadi tadi adalah peleburan dari individu-individu dalam kelompok-kelompok, sehingga tujuan individu menjadi tujuan kelompok-kelompok tersebut. Dari pendapat Cooley tersebut, ada dua hal yang dapat dikemukakan mengenai kelompok primer, yaitu:
1. Satu kelas yang terdiri dari kelompok yang kerja samanya erat, seperti, keluarga, rukun tetangga, rukun kampung, & lain sebagainya.
2. Satu kelas lain yang saling kenal mengenal, terutama yang menekankan kepada sifat hubungan antar pribadi seperti simpati, kerja sama, & spontan.
Yang penting dalam kelompok primer ini adalah hubungan timbal balik antar anggota-anggotanya secara psikologis adalah peleburan dari pada individu dengan cita-citanya masing-masing, sehingga tujuan & cita-cita individu juga menjadi tujuan & cita-cita kelompoknya, serta hubungan antara anggota-anggotanya selalu harmonis.
Mengenai kelompok primer ini Soekanto (1982, 122) menambahkan bahwa anggota-anggota kelompok tersebut:
1. Secara fisik berdekatan satu dengan lainnya.
2. Kelompok tersebut adalah kecil.
3. Adanya hubungan antar anggotanya.
Agar terjadi hubungan yang akrab, Soekanto selanjutnya menyatakan bahwa individu yang bersangkutan mau tidak mau secara fisik harus saling kenal mengenal. Saling berbicara & saling melihat merupakan kondisi di mana bisa bertukar pikiran. Kelompok primer seperti yang telah dikemukakan cirinya adalah di mana dalam interaksi tiap individu dapat leluasa menyimak lawan bicaranya. Karena wujudnya yang saling berhadapan satu dengan yang lain maka reaksi di antaranya terlihat bebas. Bebas dalam pengertian keduanya yaitu komunikator & komunikan dapat langsung memberi tanggapan atau bereaksi jika pembicaraan antara keduanya tidak terdapat saling pengertian. Adanya saling pengertian antara pihak yang berkomunikasi dalam kelompok primer sangat diperlukan agar komunikasi berlanjut, & kedua pihak saling mengerti isi pembicaraan. Untuk yang terakhir ini, Hannesey menambahkan bahwa yang dimaksud tatap muka tidak perlu diartikan saling berhadapan secara fisik sebab face to face itu bisa saja terjadi dalam ruang yang berbeda atau berjauhan, sekali pun jaraknya terpisah beberapa kilometer, puluhan kilometer, berbeda kota, atau propinsi bahkan benua. Unsur yang penting dari kelompok primer atau jaringan komunikasi primer adalah orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah perorangan. Kelompok primer & jaringan komunikasi yang dibentuk oleh mereka sangat berbeda dalam fungsi, tujuan, keanggotaan, & tingkat formalitasnya. Seperti Cooley, Hannesey (1981, 190) menyatakan bahwa bentuk komunikasi antar persona atau tatap muka adalah kelompok primer yang ditandai dengan kerja sama & persatuan tatap muka yang akrab.

2. Pengaruh personal pada opini publik
Leonard Doob menyatakan bahwa opini publik adalah sikap orang orang mengenai suatu soal. Sesuatu hal itu maksudnya suatu issue atau pokok permasalahan, mengenai apa saja yang terjadi, yang dibicarakan orang, yang hangat (aktual), apa saja yang menjadi sasarannya. Sesuatu yang aktual mengenai suatu issue, orang, benda, atau lembaga bisa menjadi sasaran yang dibicarakan orang. Opini publik itu berasal dari sikap seseorang dalam merespon sesuatu masalah. Opini publik bisa juga dari sesuatu kelompok, baik kelompok primer yang terdiri dari dua tiga orang, maupun dari kelompok yang lebih besar. Akan tetapi sekali pun berasal dari kelompok, primer atau sekunder, asalnya berasal dari opini individu-individu yang diintegrasikan, di mana opini individu-individu itu mendapat dukungan atau persetujuan dari kelompoknya. Opini seseorang mengenai sesuatu issue itu bisa menjadi opini publik, kalau didukung oleh kelompoknya. Dukungan itu dapat terjadi, kalau opininya tidak jauh berbeda dengan aspirasi anggota-anggota kelompoknya. Penilaiannya terhadap sesuatu permasalahan terjadi kalau ada kesamaan dari tiap individu dalam kelompoknya dalam mengapresiasi atau menilai permasalahan yang muncul. Penilaian terhadap masalah yang ada bergantung pada bagaimana ia mempersepsi sesuatu permasalahan. Hennessy (1981, 191) menyatakan pembentukan pendapat atau perubahan pendapat tidak selamanya disebabkan oleh adanya komunikasi, maksudnya bisa saja pembentukan pendapat itu oleh karena hasil belajar yang dapat menghasilkan sikap & pandangan mengenai suatu persoalan, tetapi pada umumnya suatu pendapat atau opini biasanya lahir dari adanya suatu pernyataan atau komunikasi. Komunikasi tersebut berasal dari: Pernyataan yang sampai kepadanya, kemudian diberi tanggapan atau opini sesuai dengan pengetahuan, pengalaman yang ada pada dirinya, tetapi bisa juga opini mengenai sesuatu itu berasal dari hasil belajar dirinya sendiri, yang secara langsung ke luar dari memorinya, karena ada sesuatu isu atau permasalahan.
Dengan demikian, maka opini seseorang terhadap suatu permasalahan kecuali karena persepsi orang itu tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi & menafsirkannya, juga oleh faktor-faktor lain yaitu faktor situasional &:
1. Faktor yang berasal dari pengaruh dalam proses penyandian pesan misalnya: pengetahuannya, kecakapan berkomunikasinya, keadaan sosial budayanya & sikap seseorang itu sendiri terhadap obyek.
2. Faktor situasional, yaitu pengaruh dari lingkungan fisik di mana komunikasi itu berlangsung. Faktor ke dua ini misalnya lingkungan fisik daerahnya, keadaan sekeliling lokasi tempat komunikasi berlangsung, atau situasi di mana komunikasi itu terjadi.
3. Gangguan (noise), juga ikut berpengaruh pada saat penyampaian pesan atau pada waktu penerimaan pesan. Suara yang gaduh, deruman kendaraan bermotor, atau suara-suara lain yang terlalu keras hingga suasana menjadi terganggu
Faktor personal pada opini publik turut mempengaruhi kualitas dari opini itu. Ini berarti suatu opini yang muncul di permukaan memang ditentukan oleh faktor personal dari si pemberi opini, terutama pengalaman, pengetahuan, & keterampilannya saat ia menyimpulkan atau menafsirkan informasi yang menerpanya.
(c)Eddy Yehuda

%d blogger menyukai ini: