Pendidikan Ilmu Humas di Era Globalisasi

April 12, 2008

Pendidikan Ilmu Humas di Era Globalisasi
Eddy Yehuda, Drs.,M.S. <Eddy-Yehuda@YAHrapha.web.id>

Profesi humas & lembaga pendidikan yang mengajarkan Ilmu Humas di Indonesia memang relatif masih muda usianya. Tidak semaju & berkembang di Amerika Serikat & Eropa, di mana profesi humas mendapat apresiasi yang baik & dihormati. Banyak kalangan praktisi humas di sana menduduki posisi puncak manajemen & mendapatkan penghasilan yang memadai.
Dalam sebuah laporan penelitian yang dilakukan oleh Elizabeth Ananto, seorang praktisi humas, dalam salah satu kesimpulannya menyatakan bahwa “apresiasi terhadap profesi humas dari pihak manajemen di sebagian besar institusi & lembaga di Indonesia masih kurang”. Pada kenyataannya, profesi humas belum mendapatkan pengakuan yang sama dengan profesi lain, seperti akuntan publik, pengacara, dokter, atau konsultan manajemen.
Demikian pula pada pengamatan saya yang mendapatkan gambaran umum bahwa posisi humas pada banyak organisasi perusahaan & lembaga pemerintah masih kurang memuaskan. Humas ditempatkan jauh dari top management & kurang mendapat wewenang berbicara mewakili organisasi perusahaan atau lembaga pemerintah. Banyak perusahaan atau lembaga pemerintah hanya menganggap humas sebagai bagian pelengkap dalam penyebaran informasi ke masyarakat. Di salah satu hotel, humas ditempatkan di bawah bagian marketing, yang berfungsi membantu tugas pemasaran & promosi. Sedangkan hubungan dengan karyawan ditangani oleh bagian personalia atau general affair.
Gambaran posisi humas seperti itu, bagaimana kita menghadapi tantangan di era globalisasi. Kompetisi profesi semakin tajam mengingat kita akan berhadapan dengan para profesional asing di negeri kita sendiri. Berapa besar peluang praktisi humas kita sanggup bersaing & meraih kesempatan itu? Suatu pertanyaan penting bagi kita yang berkecimpung dalam dunia pendidikan yang menyediakan sumber daya manusia di bidang profesi tersebut.
Tanpa melalui proses ini, saya kira pemulihan atau ‘recovery’ ekonomi Indonesia akan semakin jauh, & peluang perluasan kesempatan kerja semakin sempit. Hal ini akan membawa dampak juga terhadap dunia pendidikan yang mencetak tenaga terdidik akan menghadapi situasi sulit. Bagaimana nanti menyalurkan tenaga lulusannya yang semakin banyak & sangat membutuhkan pekerjaan.
Indonesia telah menandatangani kesepakatan APEC, berarti kita tidak lagi bisa memperlakukan sistem perdagangan dengan proteksi terhadap produk barang & jasa kita. Kita juga terikat pada perjanjian perdagangan internasional yang diatur oleh WTO. Peluang pasar dalam negeri tidak lagi hanya menjadi milik kita. Produk Indonesia harus mampu bersaing dengan produk asing, jika tidak, akan diambil pasarnya oleh produsen luar negeri. Demikian pula terjadi di bidang jasa, akan terjadi adu kompetensi & profesionalisme antara tenaga asing & tenaga kita menghadapi tantangan di masa globalisasi.
Pada era globalisasi, terjadi perkembangan & perubahan ekonomi sosial demikian cepat. Teknik & strategi pemasaran telah berkembang cepat & canggih. Menurut James McManus, pemimpin Marketing Corporation of America, mengatakan:
“Kini perusahaan menyadari bahwa biaya bahan baku, tenaga kerja, & sumber daya fisik hanyalah biaya ‘pinggiran’ & sebenarhnya bagian dari perkembangan dramatis yang akan muncul dari pelaksanaan pemasaran yang lebih canggih.” Hal ini berarti konsep pemasaran harus ditinggalkan & diganti konsep baru dengan pendekatan strategi maxi marketing.
Konsep baru ini muncul sebagai jawaban atas perubahan pasar yang dramatis, yakni perubahan demografis & gaya hidup yang menggoyahkan pemasaran massal & loyalitas merk. Kini, muncul masyarakat dengan banyak pilihan & konsumen individual sebagai raja yang harus dilayani.
Alvin Toffler, dalam bukunya “The Third Wave”, mengatakan bahwa “masyarakat massal yang tercipta karena revolusi industri kini terpecah menjadi masyarakat yang terpilah-pilah (demassification). Pasar massal telah terpilah-pilah menjadi banyak pecahan, tiap perubahan membentuk pasar-pasar kecil menuntut perluasan sebagai pilihan model, jenis, ukuran, warna, & penyeragaman.” Hal ini mengisyaratkan bahwa pasar semakin segmented & spesifik. Berarti, terbuka peluang yang luas untuk produk barang & jasa yang ditawarkan kepada konsumen dengan pemenuhan kebutuhan spesifik. Contohnya, kini perusahaan Coca-cola menawarkan New Coke, Diet Coke, Tab Coke, Caffeine-free Coke, Cherry Coke, & siapa tahu akan muncul produk-produk baru lainnya.
Sektor perkembangan ekonomi jasa telah terjadi era “masyarakat informasi.” Seperti yang dikemukakan Naisbitt:
“Kegiatan utama pekerja jasa umumnya terkait dengan penciptaan, proses, & pendistribusian informasi. Pada tahun 1950, hanya sekitar 17% dari kita yang bekerja di bidang informasi. Kini, lebih dari 60% dari kita bekerja sebagai programmer, pengajar, sekretaris, akuntan, pialang saham, petugas asuransi, birokrat, pengacara, bankir, teknisi, pemroses & pendistribusian informasi.”
Fenomena ini melibatkan pemasaran karena terkait dengan kebutuhan informasi yang dijual, seperti majalah, media Tv katalog, layanan bank data, & jasa informasi lainnya.
Demikian pula terjdi peluang bagi praktisi public relations, baik sebagai pengajar, pelatih, konsultan, & profesi dalam organisasi atau lembaga. Seperti munculnya internet telah membuka peluang pemanfaatan media ini untuk promosi, pendistribusian informasi, e-mail, konsultasi, & pemanfaatan lainnya. Bahkan, dikenal adanya “strategi cyber PR”, yakni pemanfaatan internet oleh perusahaan dengan menggunakan homepage untuk memperkenalkan perusahaan melalui internet & penyampaian informasi perusahaan kepada masyarakat.
Menurunkan kurikulum Ilmu Humas ideal yang berdimensi ilmu & praktis perlu dilandasi pada sebuah ‘body of knowledge’ yang tersusun secara sistematis yang dapat dipakai untuk meningkatkan kemampuan keilmuan & praktis untuk kedua bidang komunikasi ini. Dalam menyusun kurikulum ini perlu melakukan penelusuran terhadap bahan-bahan yang relevan untuk disusun secara sistematis menjadi sebuah ‘body of knowledge’ pendidikan humas ini perlu segera dilakukan atau dirintis.
(c)Eddy Yehuda

%d blogger menyukai ini: