Pendidikan Ilmu Humas di Era Globalisasi
Eddy Yehuda, Drs.,M.S. <Eddy-Yehuda@YAHrapha.web.id>

Profesi humas & lembaga pendidikan yang mengajarkan Ilmu Humas di Indonesia memang relatif masih muda usianya. Tidak semaju & berkembang di Amerika Serikat & Eropa, di mana profesi humas mendapat apresiasi yang baik & dihormati. Banyak kalangan praktisi humas di sana menduduki posisi puncak manajemen & mendapatkan penghasilan yang memadai.
Dalam sebuah laporan penelitian yang dilakukan oleh Elizabeth Ananto, seorang praktisi humas, dalam salah satu kesimpulannya menyatakan bahwa “apresiasi terhadap profesi humas dari pihak manajemen di sebagian besar institusi & lembaga di Indonesia masih kurang”. Pada kenyataannya, profesi humas belum mendapatkan pengakuan yang sama dengan profesi lain, seperti akuntan publik, pengacara, dokter, atau konsultan manajemen.
Demikian pula pada pengamatan saya yang mendapatkan gambaran umum bahwa posisi humas pada banyak organisasi perusahaan & lembaga pemerintah masih kurang memuaskan. Humas ditempatkan jauh dari top management & kurang mendapat wewenang berbicara mewakili organisasi perusahaan atau lembaga pemerintah. Banyak perusahaan atau lembaga pemerintah hanya menganggap humas sebagai bagian pelengkap dalam penyebaran informasi ke masyarakat. Di salah satu hotel, humas ditempatkan di bawah bagian marketing, yang berfungsi membantu tugas pemasaran & promosi. Sedangkan hubungan dengan karyawan ditangani oleh bagian personalia atau general affair.
Gambaran posisi humas seperti itu, bagaimana kita menghadapi tantangan di era globalisasi. Kompetisi profesi semakin tajam mengingat kita akan berhadapan dengan para profesional asing di negeri kita sendiri. Berapa besar peluang praktisi humas kita sanggup bersaing & meraih kesempatan itu? Suatu pertanyaan penting bagi kita yang berkecimpung dalam dunia pendidikan yang menyediakan sumber daya manusia di bidang profesi tersebut.
Tanpa melalui proses ini, saya kira pemulihan atau ‘recovery’ ekonomi Indonesia akan semakin jauh, & peluang perluasan kesempatan kerja semakin sempit. Hal ini akan membawa dampak juga terhadap dunia pendidikan yang mencetak tenaga terdidik akan menghadapi situasi sulit. Bagaimana nanti menyalurkan tenaga lulusannya yang semakin banyak & sangat membutuhkan pekerjaan.
Indonesia telah menandatangani kesepakatan APEC, berarti kita tidak lagi bisa memperlakukan sistem perdagangan dengan proteksi terhadap produk barang & jasa kita. Kita juga terikat pada perjanjian perdagangan internasional yang diatur oleh WTO. Peluang pasar dalam negeri tidak lagi hanya menjadi milik kita. Produk Indonesia harus mampu bersaing dengan produk asing, jika tidak, akan diambil pasarnya oleh produsen luar negeri. Demikian pula terjadi di bidang jasa, akan terjadi adu kompetensi & profesionalisme antara tenaga asing & tenaga kita menghadapi tantangan di masa globalisasi.
Pada era globalisasi, terjadi perkembangan & perubahan ekonomi sosial demikian cepat. Teknik & strategi pemasaran telah berkembang cepat & canggih. Menurut James McManus, pemimpin Marketing Corporation of America, mengatakan:
“Kini perusahaan menyadari bahwa biaya bahan baku, tenaga kerja, & sumber daya fisik hanyalah biaya ‘pinggiran’ & sebenarhnya bagian dari perkembangan dramatis yang akan muncul dari pelaksanaan pemasaran yang lebih canggih.” Hal ini berarti konsep pemasaran harus ditinggalkan & diganti konsep baru dengan pendekatan strategi maxi marketing.
Konsep baru ini muncul sebagai jawaban atas perubahan pasar yang dramatis, yakni perubahan demografis & gaya hidup yang menggoyahkan pemasaran massal & loyalitas merk. Kini, muncul masyarakat dengan banyak pilihan & konsumen individual sebagai raja yang harus dilayani.
Alvin Toffler, dalam bukunya “The Third Wave”, mengatakan bahwa “masyarakat massal yang tercipta karena revolusi industri kini terpecah menjadi masyarakat yang terpilah-pilah (demassification). Pasar massal telah terpilah-pilah menjadi banyak pecahan, tiap perubahan membentuk pasar-pasar kecil menuntut perluasan sebagai pilihan model, jenis, ukuran, warna, & penyeragaman.” Hal ini mengisyaratkan bahwa pasar semakin segmented & spesifik. Berarti, terbuka peluang yang luas untuk produk barang & jasa yang ditawarkan kepada konsumen dengan pemenuhan kebutuhan spesifik. Contohnya, kini perusahaan Coca-cola menawarkan New Coke, Diet Coke, Tab Coke, Caffeine-free Coke, Cherry Coke, & siapa tahu akan muncul produk-produk baru lainnya.
Sektor perkembangan ekonomi jasa telah terjadi era “masyarakat informasi.” Seperti yang dikemukakan Naisbitt:
“Kegiatan utama pekerja jasa umumnya terkait dengan penciptaan, proses, & pendistribusian informasi. Pada tahun 1950, hanya sekitar 17% dari kita yang bekerja di bidang informasi. Kini, lebih dari 60% dari kita bekerja sebagai programmer, pengajar, sekretaris, akuntan, pialang saham, petugas asuransi, birokrat, pengacara, bankir, teknisi, pemroses & pendistribusian informasi.”
Fenomena ini melibatkan pemasaran karena terkait dengan kebutuhan informasi yang dijual, seperti majalah, media Tv katalog, layanan bank data, & jasa informasi lainnya.
Demikian pula terjdi peluang bagi praktisi public relations, baik sebagai pengajar, pelatih, konsultan, & profesi dalam organisasi atau lembaga. Seperti munculnya internet telah membuka peluang pemanfaatan media ini untuk promosi, pendistribusian informasi, e-mail, konsultasi, & pemanfaatan lainnya. Bahkan, dikenal adanya “strategi cyber PR”, yakni pemanfaatan internet oleh perusahaan dengan menggunakan homepage untuk memperkenalkan perusahaan melalui internet & penyampaian informasi perusahaan kepada masyarakat.
Menurunkan kurikulum Ilmu Humas ideal yang berdimensi ilmu & praktis perlu dilandasi pada sebuah ‘body of knowledge’ yang tersusun secara sistematis yang dapat dipakai untuk meningkatkan kemampuan keilmuan & praktis untuk kedua bidang komunikasi ini. Dalam menyusun kurikulum ini perlu melakukan penelusuran terhadap bahan-bahan yang relevan untuk disusun secara sistematis menjadi sebuah ‘body of knowledge’ pendidikan humas ini perlu segera dilakukan atau dirintis.
(c)Eddy Yehuda

Kelompok Primer, Pengaruh Personal pada Opini Publik
Eddy Yehuda, Drs.,M.S. <Eddy-Yehuda@YAHrapha.web.id>

1. Kelompok primer & jaringan komunikasi
Manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi dalam kelompoknya, tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri dalam dunia ini, karena sebagai makhluk sosial, manusia harus berhubungan satu dengan yang lain. Manusia berbeda dengan binatang, pada sebagian besar binatang seperti anak ayam, walaupun baru beberapa hari dilahirkan ia langsung bisa mencari makan sendiri. Manusia untuk hidup sendiri tanpa orang lain memerlukan waktu yang lama sekali. Seorang bayi untuk makan, berjalan, & bermain-main membutuhkan bantuan orang lain, untuk itu ia harus berhubungan dengan yang lain. Manusia yang dibiarkan hidup sendiri tanpa berhubungan dengan orang lain, mungkin hanya dapat bertahan untuk beberapa lama, selanjutnya jika dibiarkan untuk jangka waktu tertentu, perkembangan jiwanya akan terganggu. Soekanto (1982, 111) mengatakan bahwa manusia mempunyai hasrat atau keinginan pokok, yaitu:
1. Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya.
2. Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.
Untuk dapat memenuhi kedua keinginan itu, manusia perlu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, & perlu menggunakan akal pikirannya dengan jernih & penuh perhatian. Manusia dalam hubungannya dengan yang lain akan saling berinteraksi atau berkomunikasi satu dengan yang lain. Bentuk komunikasi yang dilakukan bergantung pada komunikannya. Jika berkomunikasi hanya dengan satu orang saja, maka itu termasuk kelompok primer, & bentuk komunikasinya adalah komunikasi antar persona atau face to face communication, di mana hubungan antara anggota-anggotanya rapat sekali satu sama lain. Menurut Charles Horton Cooley (dalam Soekanto, 1982, 121) kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang ditandai ciri-ciri kenal mengenal antara anggota-anggotanya serta kerja sama erat yang bersifat pribadi. Salah satu hasil hubungan yang erat & bersifat pribadi tadi adalah peleburan dari individu-individu dalam kelompok-kelompok, sehingga tujuan individu menjadi tujuan kelompok-kelompok tersebut. Dari pendapat Cooley tersebut, ada dua hal yang dapat dikemukakan mengenai kelompok primer, yaitu:
1. Satu kelas yang terdiri dari kelompok yang kerja samanya erat, seperti, keluarga, rukun tetangga, rukun kampung, & lain sebagainya.
2. Satu kelas lain yang saling kenal mengenal, terutama yang menekankan kepada sifat hubungan antar pribadi seperti simpati, kerja sama, & spontan.
Yang penting dalam kelompok primer ini adalah hubungan timbal balik antar anggota-anggotanya secara psikologis adalah peleburan dari pada individu dengan cita-citanya masing-masing, sehingga tujuan & cita-cita individu juga menjadi tujuan & cita-cita kelompoknya, serta hubungan antara anggota-anggotanya selalu harmonis.
Mengenai kelompok primer ini Soekanto (1982, 122) menambahkan bahwa anggota-anggota kelompok tersebut:
1. Secara fisik berdekatan satu dengan lainnya.
2. Kelompok tersebut adalah kecil.
3. Adanya hubungan antar anggotanya.
Agar terjadi hubungan yang akrab, Soekanto selanjutnya menyatakan bahwa individu yang bersangkutan mau tidak mau secara fisik harus saling kenal mengenal. Saling berbicara & saling melihat merupakan kondisi di mana bisa bertukar pikiran. Kelompok primer seperti yang telah dikemukakan cirinya adalah di mana dalam interaksi tiap individu dapat leluasa menyimak lawan bicaranya. Karena wujudnya yang saling berhadapan satu dengan yang lain maka reaksi di antaranya terlihat bebas. Bebas dalam pengertian keduanya yaitu komunikator & komunikan dapat langsung memberi tanggapan atau bereaksi jika pembicaraan antara keduanya tidak terdapat saling pengertian. Adanya saling pengertian antara pihak yang berkomunikasi dalam kelompok primer sangat diperlukan agar komunikasi berlanjut, & kedua pihak saling mengerti isi pembicaraan. Untuk yang terakhir ini, Hannesey menambahkan bahwa yang dimaksud tatap muka tidak perlu diartikan saling berhadapan secara fisik sebab face to face itu bisa saja terjadi dalam ruang yang berbeda atau berjauhan, sekali pun jaraknya terpisah beberapa kilometer, puluhan kilometer, berbeda kota, atau propinsi bahkan benua. Unsur yang penting dari kelompok primer atau jaringan komunikasi primer adalah orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah perorangan. Kelompok primer & jaringan komunikasi yang dibentuk oleh mereka sangat berbeda dalam fungsi, tujuan, keanggotaan, & tingkat formalitasnya. Seperti Cooley, Hannesey (1981, 190) menyatakan bahwa bentuk komunikasi antar persona atau tatap muka adalah kelompok primer yang ditandai dengan kerja sama & persatuan tatap muka yang akrab.

2. Pengaruh personal pada opini publik
Leonard Doob menyatakan bahwa opini publik adalah sikap orang orang mengenai suatu soal. Sesuatu hal itu maksudnya suatu issue atau pokok permasalahan, mengenai apa saja yang terjadi, yang dibicarakan orang, yang hangat (aktual), apa saja yang menjadi sasarannya. Sesuatu yang aktual mengenai suatu issue, orang, benda, atau lembaga bisa menjadi sasaran yang dibicarakan orang. Opini publik itu berasal dari sikap seseorang dalam merespon sesuatu masalah. Opini publik bisa juga dari sesuatu kelompok, baik kelompok primer yang terdiri dari dua tiga orang, maupun dari kelompok yang lebih besar. Akan tetapi sekali pun berasal dari kelompok, primer atau sekunder, asalnya berasal dari opini individu-individu yang diintegrasikan, di mana opini individu-individu itu mendapat dukungan atau persetujuan dari kelompoknya. Opini seseorang mengenai sesuatu issue itu bisa menjadi opini publik, kalau didukung oleh kelompoknya. Dukungan itu dapat terjadi, kalau opininya tidak jauh berbeda dengan aspirasi anggota-anggota kelompoknya. Penilaiannya terhadap sesuatu permasalahan terjadi kalau ada kesamaan dari tiap individu dalam kelompoknya dalam mengapresiasi atau menilai permasalahan yang muncul. Penilaian terhadap masalah yang ada bergantung pada bagaimana ia mempersepsi sesuatu permasalahan. Hennessy (1981, 191) menyatakan pembentukan pendapat atau perubahan pendapat tidak selamanya disebabkan oleh adanya komunikasi, maksudnya bisa saja pembentukan pendapat itu oleh karena hasil belajar yang dapat menghasilkan sikap & pandangan mengenai suatu persoalan, tetapi pada umumnya suatu pendapat atau opini biasanya lahir dari adanya suatu pernyataan atau komunikasi. Komunikasi tersebut berasal dari: Pernyataan yang sampai kepadanya, kemudian diberi tanggapan atau opini sesuai dengan pengetahuan, pengalaman yang ada pada dirinya, tetapi bisa juga opini mengenai sesuatu itu berasal dari hasil belajar dirinya sendiri, yang secara langsung ke luar dari memorinya, karena ada sesuatu isu atau permasalahan.
Dengan demikian, maka opini seseorang terhadap suatu permasalahan kecuali karena persepsi orang itu tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi & menafsirkannya, juga oleh faktor-faktor lain yaitu faktor situasional &:
1. Faktor yang berasal dari pengaruh dalam proses penyandian pesan misalnya: pengetahuannya, kecakapan berkomunikasinya, keadaan sosial budayanya & sikap seseorang itu sendiri terhadap obyek.
2. Faktor situasional, yaitu pengaruh dari lingkungan fisik di mana komunikasi itu berlangsung. Faktor ke dua ini misalnya lingkungan fisik daerahnya, keadaan sekeliling lokasi tempat komunikasi berlangsung, atau situasi di mana komunikasi itu terjadi.
3. Gangguan (noise), juga ikut berpengaruh pada saat penyampaian pesan atau pada waktu penerimaan pesan. Suara yang gaduh, deruman kendaraan bermotor, atau suara-suara lain yang terlalu keras hingga suasana menjadi terganggu
Faktor personal pada opini publik turut mempengaruhi kualitas dari opini itu. Ini berarti suatu opini yang muncul di permukaan memang ditentukan oleh faktor personal dari si pemberi opini, terutama pengalaman, pengetahuan, & keterampilannya saat ia menyimpulkan atau menafsirkan informasi yang menerpanya.
(c)Eddy Yehuda

Opini Publik & Komunikasi Massa
Eddy Yehuda, Drs.,M.S. <Eddy-Yehuda@YAHrapha.web.id>

Opini publik seperti telah disebutkan, adalah pengintegrasian pendapat dari sekumpulan orang yang menaruh perhatian terhadap suatu issue atau pokok permasalahan yang sifatnya kontroversial. Pengintegrasian pendapat itu baru dapat disebut opini publik setelah pesannya dimuat dalam media massa, yaitu disiarkan melalui televisi, radio, atau dicetak melalui surat kabar atau majalah, serta diedarkan & ditonton melalui film-film yang diputar di gedung-gedung bioskop. Jadi, masyarakat mengetahui masalah yang mendapat opini dari masyarakat atau opini dari publik-publik tertentu & membicarakan dalam pembicaraan di warung-warung kopi, warung makan, di tempat kerja, & di mana saja ada kesempatan mengobrol, setelah disiarkan atau dicetak oleh media massa. Pembicaraan publik-publik tertentu itulah yang kemudian disebut opini publik, yaitu opini yang berasal dari individu-individu, kemudian mendapat tanggapan, didiskusikan, sehingga menjadi lebih luas & lebih menyebar. Hal itulah yang menyebabkan bahwa opini publik itu sangat bergantung pada media massa. Tanpa media massa, masyarakat tidak akan mengetahui adanya opini & publik-publik yang beraneka ragam, yang menaruh minat atau tertarik pada permasalahan faktual yang muncul ke permukaan itu, yaitu yang beredar di masyarakat & dimuat oleh media massa cetak atau yang disiarkan melalui radio & televisi. Opini yang disiarkan melalui media massa itu biasanya mengenai permasalahan yang sangat faktual & kontroversial, misalnya yang menyangkut kepentingan masyarakat atau yang berhubungan dengan keadilan, kelayakan hidup, dsb. Masalah seperti itu biasanya yang mengundang opini dalam masyarakat, seperti saat sekarang adalah mengenai kenaikan harga sembako, susu untuk bayi & anak-anak, dsb. Opini publik mengenai hal-hal tersebut akan terus diperhatikan orang, didiskusikan, ditambah & dikurangi informasinya/faktanya, sehingga yang tidak faktual ditinggalkan, yang agak faktual beredar luas di kalangan masyarakat, & begitulah seterusnya. Ferdinand Tonnies (dalam Sunaryo, 1997, 30) menyebutkan ada tiga tahap opini publik dalam perkembangannya, yaitu:
1. Opini publik luftartig, yaitu opini publik yang laksana uap, di mana dalam perkembangannya masih terombang-ambing mencari bentuk yang nyata.
2. Opini publik yang flussig, yang mempunyai sifat-sifat seperti air, opini publik ini sudah mempunyai bentuk yang nyata, tetapi masih dapat dialirkan menurut saluran yang dikehendaki.
3. Opini publik yang festig, adalah opini publik yang sudah kuat, & tidak mudah berubah.
Tahap perkembangan atau pembentukan opini publik itu disebabkan perbedaan latar belakang pengetahuan, pengalaman dari individu-individu yang menaruh minat terhadap permasalahan, di samping usia, kedekatan terhadap masalah, pendidikan & faktor-faktor dari luar dirinya seperti banyaknya masalah yang lain, pertentangan pengaruh teman, waktu yang tersedia, dsb. turut berperan dalam pembentukan atau perkembangan opini publik.
Proses komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang atau simbol sebagai media. Tanpa media tidak mungkin pesan bisa sampai kepada komunikan yaitu penerima pesan. Lambang yang digunakan dalam penyampaian pesan kepada komunikan adalah bahasa. Bahasa dalam komunikasi dikenal sebagai media primer ini adalah: kial (gesture), isyarat, gambar, warna, & lain sebagainya. Jika bahasa sebagai media primer, ada media lainnya, yaitu media sekunder, yang dalam penyampaiannya menggunakan alat atau sarana misalnya: surat, telepon, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, internet, dst. Pada umumnya pembicaraan dalam masyarakat yang dinamakan media komunikasi adalah media yang ke dua atau sekunder. Jarang sekali bahasa dianggap media komunikasi, sebab bahasa dengan pesan yang disampaikan menjadi suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Lain halnya dengan media surat, telepon, radio & lainnya, tidak selalu digunakan, sedangkan bahasa itu sudah menjadi paket, di mana orang berkomunikasi pasti memakai bahasa. Jadi dengan demikian media adalah alat atau sarana yang memungkinkan seseorang atau komunikator bisa menyampaikan pesan kepada komunikan atau si penerima pesan, & seperti yang telah diutarakan bahwa bahasa termasuk sebagai totalitas pesan. Bahasa memang yang paling banyak digunakan dalam berkomunikasi, jadi jika menyebut media yang dimaksud adalah semua alat di luar bahasa. Sesungguhnya bahasa adalah alat yang paling banyak digunakan dalam berkomunikasi, karena bahasa sebagai lambang mampu mentransmisikan pikiran, ide, pendapat, & lain sebagainya. Bila dibayangkan jika tidak ada simbol-simbol untuk sesuatu benda di sekitar manusia yang selanjutnya menjadi kata-kata, maka sulit sekali manusia berkomunikasi baik mengenai sesuatu yang konkrit apa lagi abstrak. Karena dilengkapi dengan media di luar bahasa maka manusia dengan mudah dapat berkomunikasi satu dengan yang lain, karena itu dalam bentuk komunikasi ditambahkan satu bentuk lagi yaitu komunikasi medio (medio communication) di samping bentuk komunikasi persona, kelompok, & komunikasi massa. Bentuk komunikasi massa ini adalah suatu bentuk komunikasi yang memakai media massa. Komunikasi massa sebenarnya merupakan singkatan dari komunikasi media massa. (mass communications), yaitu proses komunikasi melalui media massa. Menurut Sastroputro (1987, 12), komunikasi massa itu memiliki ciri sebagai berikut:
1. Komunikasi ditujukan kepada massa/orang banyak sebagai komunikan.
2. Komunikasi dilakukan serempak.
3. Komunikator merupakan suatu organisasi, lembaga, atau orang yang dilembagakan (institutionalized person).
4. Pesannya bersifat umum.
5. Media yang digunakan adalah media massa, artinya bisa menjangkau sekaligus orang banyak.
6. Umpan balik (feedback) tidak langsung/terlambat.
Berdasarkan ciri-ciri komunikasi massa seperti yang telah diutarakan tersebut, jadi komunikasi massa itu:
# Pertama, bahwa komunikasi massa itu adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa atau orang banyak sebagai komunikannya. Komunikan yang merupakan kumpulan anggota-anggota masyarakat itu bersifat heterogen. Ini berarti bahwa komunikan yang terpencar-pencar itu bermacam-macam dalam berbagai hal seperti: jenis kelamin, usia, pendidikan, agama, pengalaman, pekerjaan, keinginan, cita-cita, pandangan hidup, & sebagainya. Komunikan yang heterogen itu akan menyebabkan kesulitan seorang komunikator dalam menyebarkan informasi melalui media massa karena setiap individu dari khalayak itu menghendaki agar keinginannya terpenuhi. Demikian juga bagi pengelola media massa tidak mungkin untuk memenuhi keinginan komunikan, & salah satu cara untuk dapat mendekati keinginan seluruh khalayak komunikan adalah dengan mengelompokan berdasarkan perbedaan-perbedaan yang ada. Dengan demikian khalayak penonton dapat dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, usia pekerjaan, pendidikan, kesenangan, dsb. Seperti telah dikemukakan pengelompokan yang dilakukan oleh berbagai media massa dengan mengadakan rubrik-rubrik atau acara tertentu untuk kelompok atau publik:
– pembaca surat kabar atau majalah,
– pendengar radio,
– penonton televisi.
Hampir semua media massa menyajikan rubrik-rubrik khusus bagi publik masing-masing medianya. Dalam media mass cetak misalnya diadakan rubrik khusus untuk: anak-anak, remaja, & dewasa; pemeluk Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, & kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa; murid/siswa T.K., S.D., SMP, SMU, & mahasiswa; penggemar seni teater; teknologi; & kelompok-kelompok lainnya. Pada media televisi pun diadakan acara-acara khusus sesuai dengan kelompok penonton, seperti: acara anak-anak, kaum wanita, dewasa, kesenian tradisional, hiburan musik, film khusus anak, film dewasa, dapur sehat, dialog, dsb.
# Ke dua, komunikasi dilakukan serempak, ini berarti bahwa ciri komunikasi massa dengan media massa dapat melakukan keserempakkan pada komunikan dalam menerima pesan-pesan yang disebarkan. Dengan ciri keserempakan itu maka pesan-pesan yang disebarkan bisa dengan cepat diterima di mana saja di seluruh daerah di Indonesia, & penerimaan pesannya juga pada saat yang sama. Media massa televisi & radio merupakan media elektronika yang benar-benar serempak dalam penyajiannya, demikian juga penontonnya yang mendengarkan & menonton acara yang disiarkan. Media surat kabar, majalah, & film sedikit berbeda dengan kedua media massa terdahulu. Surat kabar, majalah, & film bisa serempak dalam menyebarkannya tetapi pembaca surat kabar atau majalah & penonton film di bioskop berbedas dalam membaca & menontonnya, hal ini karena karakteristik khusus pembaca & penonton film yang tidak sama dengan pendengar radio & penonton televisi yang pengelola & publiknya bersamaan menyiarkan & menonton atau mendengarnya.
# Ke tiga, komunikatornya merupakan suatu organisasi atau lembaga, & orang yang dilembagakan. Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga atau suatu organisasi. Hal ini berbeda dengan komunikator lain seperti dalang yang muncul dalam suatu forum bisa bertindak lebih bebas, karena ia bertindak atas namanya sendiri. Komunikator pada komunikasi massa, misalnya wartawan surat kabar, penyiar televisi, ia bertindak bukan atas namanya sendiri, tetapi atas nama lembaga, sehingga ia tidak bisa melanggar kebijaksanaan lembaga baik surat kabar maupun stasion televisi yang diwakilinya. Wartawan atau penyiar televisi tidak mempunyai kebebasan individual, semua berdasarkan kebijakan lembaga. Komunikator pada media massa itu tidak bekerja sendirian, tetapi bersama orang lain, & merupakan hasil kerja sama sejumlah orang. Karena itu maka komunikator media massa perlu betul-betul yang trampil sesuai dengan profesinya, sehingga bisa menghasilkan kerja yang baik, bermutu, & berdaya guna.
# Ke empat, pesannya bersifat umum. Pesan yang disebarkan melalui media massa bersifat umum, karena ditujukan kepada umum & mengenai kepentingan umum. Jadi pesan pada media massa memang tidak ditujukan untuk perseorangan atau kelompok-kelompok tertentu, walaupun yang membaca, mendengar, atau menontonnya individu-individu tertentu yang tidak saling mengenai & berhubungan satu sama lain. Memang inilah yang membedakan media massa dengan media bukan massa. Media surat, telepon, telegram, e-mail, atau teleks bukan media massa karena ditujukkan kepada orang tertentu. Media massa tidak menyiarkan pesan yang tidak menyangkut kepentingan umum, semua pesannya ditujukan untuk kepentingan umum. Media massa bisa saja meliput atau menyiarkan pejabat pemerintah yang meresmikan atau membuka proyek pembangunan, tetapi media massa tidak akan meliput atau menyiarkan resepsi yang bersifat pribadi dari pejabat itu, kecuali kalau pejabat itu kepala negara atau presiden/wakilnya. Peliputan itu karena kekhususan bagi pejabat yang satu atau dua orang di suatu negara.
# Ke lima, media yang digunakan adalah media massa. Ciri yang ke lima mengenai media yang digunakan dalam komunikasi massa, media yang digunakan adalah media massa, yaitu media yang dapat menjangkau orang banyak. Satu stasion televisi misalnya untuk komunikan yang banyak & tersebar di seluruh tanah air. Hal ini bisa karena memang sifatnya yang masal dari media massa itu. Lain halnya dengan media cetak surat kabar atau majalah yang asalnya satu kemudian diperbanyak sesuai dengan perkiraan yang membutuhkan. Tetapi saat diterima oleh komunikan dapat dibaca oleh leibh dari satu orang. Yang dilihat dari media massa jenis ini adalah keserempakan diterimanya & juga mungkin dibacanya.
# Ke enam, umpan balik (feedback) tidak langsung/terlambat. Ciri media massa yang terakhir ini berarti bahwa pesan yang disebarkan itu bersifat satu arah, feedback-nya tidak langsung. Feedback-nya (sesuatu yang kembalinya) tidak saat itu seperti dalam komunikasi antar persona yang bentuknya timbal balik. Komunikator dalam komunikasi antar persona dapat secara langsung mengetahui reaksi yang berasal dari komunikan, sehingga bisa diketahui & disusun strategi lanjut dari komunikasi itu. Jadi dalam komunikasi massa, komunikator sama sekali tidak mengetahui arus balik yang berasal dari komunikan (pendengar, penonton, pembaca) saat itu. Jika ada arus balik atau reaksi itu terlambat atau tertunda, karena harus menunggu tanggapan yang belum ada. Penyiar radio & televisi atau sutradara film tidak mengetahui tanggapan khalayak: pembaca, pendengar, atau penonton yang dijadikan sasaran penyiarannya, penerbitannya, atau peredarannya pada saat itu.

Media dalam Proses Komunikasi
Seperti telah diuraikan di muka proses komunikasi bisa dilakukan dengan dua cara:
a. Proses komunikasi secara primer
Proses komunikasi secara primer yaitu proses penyampaian pesan yang berisi pikiran, ide, atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang atau simbol sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dsb.
b. Proses komunikasi secara sekunder
Berbeda dengan proses komunikasi secara primer, dalam proses komunikasi secara sekunder dalam prosesnya memakai alat atau media, media yang dimaksud misalnya: surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dsb. Proses komunikasi sekunder ini sebenarnya merupakan sumbangan dari komunikasi primer untuk menembus dimensi ruang & waktu.
Dalam proses komunikasi primer antara komunikator & komunikan, bahasalah sebagai penghubung yang paling utama di samping:
1. Kial atau gesture yaitu gerakan-gerakan anggota tubuh seperti gerakan tangan, mata, badan, dsb.
2. Isyarat dengan menggunakan alat seperti kentongan, sirene, asap, bedung, dsb.
3. Gambar, apa pun bendanya menggantikan suatu lambang kata tertentu. Sering kali gambar ini lebih menarik orang, terutama anak-anak, juga sering akan membawa pada suasana yang lebih menyenangkan dari pada hanya simbol atau lambang bahasa.
Perbedaan antara proses komunikasi primer & proses komunikasi sekunder, jika dalam proses komunikasi primeryang mendominasi adalah bahasa, maka dalam proses komunikasi sekunder adalah media atau alat yang bermacam-macam wujudnya. Dengan berkembangnya teknologi karena peradaban manusia makin tinggi, maka komunikasi bermedia mengalami kemajuan pesat yang bisa memadukan bahasa dengan gambar & warna, sehingga melahirkan film, televisi, video, piringan laser, VCD, dst., demikian jugadengan media cetak, tidak hanya menghasilkan surat, poster, spanduk, bulletin, dst., tetapi juga menghasilkan surat kabar, majalah, & tabloid dengan berbagai bentuk, warna, & kertas yang dipakainya.
Media yang digunakan dalam proses komunikasi sekunder oleh O.U. Effendy (1884, 23) diklasifikasikan menjadi:
1. Media massa (mass media) &
2. Media nir massa atau non massa (non mass media).

Pengaruh Media Massa dalam Opini Publik
Informasi yang dimuat dalam media massa akan segera tersebar kepada khalayak yang besar, heterogen, & anonim. Wrigt (dalam Hennesey, 1981, 206) menyatakan bahwa pesan-pesan yang disampaikan kepada khalayak itu terbuka, sering dirancang untuk mencapai kebanyakan anggota khalayak secara simultan, sehingga pesan-pesan itu akan memberikan opini dari khalayak sebagai komunikan. Pesan yang biasa akan berlalu begitu saja, tetapi yang berhubungan dengan kepentingan rakyat banyak atau hajat hidup orang banyak sering kali menghasilkan opini yang dalam, yang cenderung menyerang kebijakan pemerintah. Dalam situasi saat sekarang, jika ada informasi mengenai kebutuhan pokok rakyat banyak, seperti minyak goreng, susu bubuk untuk balita, gula pasir, & beras akan banyak melahirkan opini dari rakyat sesuai dengan golongan-golongan profesinya, yang selanjutnya melahirkan opini publik. Berita dari media massa sering ditunggu oleh khalayak karena keingintahuan dari mereka. Sebaliknya juga pembuat keputusan yaitu pemerintah menjadikan media massa sebagai alat untuk mengetahui pikiran, keinginan masyarakat, sekali pun tidak diketahui secara pasti apa yang dikehendaki masyarakat banyak. Tetapi di saat ini, sebenarnya pemerintah dapat dengan mudah apa yang merupakan keinginan atau yang dikehendaki rakyat. Jika keadaannya kritis sebaiknya pemerintah tidak perlu banyak curiga, jika opini-opini publik di berbagai kota & daerah terus berlanjut, itu tandanya bahwa opini rakyat memang ada atau terbukti. Dari contoh tersebut jelaslah bahwa baik pemerintah maupun rakyat sebenarnya masing-masing saling memperhatikan, media massa menjadi perantaranya. Yang mempunyai cukup waktu akan menyimak informasi melalui televisi atau radio. Sebaliknya yang tidak cukup waktu mereka akan membaca media cetak sebagai alat untuk memuaskan kebutuhannya. Media massa bagi masyarakat sebagai konsumennya memberikan tiga fungsi pokok, yaitu:
a. hiburan,
b. petunjuk/pemberi arah bagi kehidupan sehari-hari, &
c. sebagai sumber informasi & pendapat tentang berbagai peristiwa dalam masyarakat (Hannesey, 1981, 208).
Bagi masyarakat Indonesia ketiga fungsi media massa itu dinikmati oleh sebagian besar yang menyimak/membaca media tersebut. Dalam situasi krisis, berita-berita atau informasi mengenai situasi & politik negara, ditunggu, ditonton, dibaca, & didengar oleh segenap lapisan masyarakat. Kemudian mereka mendiskusikan dengan anggota keluarga & teman-teman sepekerjaan atau pergaulan, yang pada akhirnya melahirkan opini yang kadang-kadang sama atau berbeda terhadap yang dipermasalahkan.
Media massa pers, radio, & televisi mampu memikat perhatian khalayak secara serempak & simultan, karena itu ketiga media massa itu sering menimbulkan masalah dalam segala bidang kehidupan. Karena itu keberadaannya perlu diperhatikan oleh pemerintah & pengaruhnya juga perlu mendapat perhatian seksama dari pemerintah. Sewaktu-waktu akan memperkuat posisi pemerintah karena dukungan dari khalayaknya terhadap keputusan-keputusan yang dikeluarkan, tetapi sewaktu-waktu juga merupakan ancaman terhadap pemerintah karena opini-opini khalayak (opini publik) yang tajam & menusuk kadang-kadang mengkhawatirkan situasi yang ada. Jika khalayak atau publik tertentu mendukung kebijakan pemerintah, akan sangat menguntungkan posisi pemerintah.
Dari uraian mengenai pengaruh media massa tersebut, seolah-olah media massa sungguh perkasa & hebat, tetapi di balik keperkasaannya sebenarnya ada kelemahan di baliknya. Kelemahan itu adalah justru dari sifatnya yang sepintas & singkat. Penyampaian media massa radio atau televisi cepat sekali, selintas, pesan yang satu diganti oleh pesan yang lain, sehingga jika khalayak, pendengar, atau penonton kurang menyimak, maka pengaruhnya sedikit pun mungkin tidak ada. Demikian juga media massa cetak, walaupun tidak seperti televisi atau radio yang selintas atau cepat sekali, pengaruhnya lebih banyak ditentukan oleh pembacanya sendiri. Jika pembaca media massa cetak itu tidak memiliki cukup waktu maka sekali pun informasi yang terdapat di dalamnya penting, menyangkut kepentingannya, sering kali hanya dibaca judulnya atau diperhatikan sesaat. Karena itu media massa bukanlah sesuatu yang sangat berkuasa & perkasa. Faktor lain yaitu komunikan, kondisinya sangat menentukan. Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh pengelola media massa, supaya pesannya diperhatikan perlu ada strategi khusus agar pembaca, pendengar, & penonton mau memperhatikan media yang dihadapinya.
(c)Eddy Yehuda

Kekuatan Opini Publik

April 12, 2008

Kekuatan Opini Publik
Eddy Yehuda, Drs.,M.S. <Eddy-Yehuda@YAHrapha.web.id>

Opini publik adalah pendapat sekumpulan orang mengenai sesuatu hal tertentu. Hal tertentu itu, bisa mengenai issue, produk, orang, lembaga, & lain sebagainya. Tentang issue, yang dimaksud adalah sesuatu persoalan atau pokok permasalahan atau kejadian yang hangat dibicarakan. Sesuatu persoalan atau yang hangat dibicarakan biasanya yang sedikitnya mengandung opini yang berlainan. Jika pendapat atau opini itu didukung oleh sebagian besar orang, Clyde L. King menyebut sebagai penilaian sosial, maka penilaian sosial itu merupakan opini publik. Sebab opini publik tersebut sudah merupakan sikap orang-orang mengenai sesuatu soal. Leonard Dubb menyatakan bahwa opini publik itu berhubungan dengan sikap manusia yaitu sikap pribadi maupun kelompok.
Negara dalam keadaan krisis kepercayaan seperti di Indonesia sekarang ini, opini publik mampu menempatkan kedudukan yang tinggi. Demonstrasi yang marak terjadi di kampus-kampus perguruan tinggi di Indonesia telah menempatkan begitu diseganinya publik kampus sehingga opini publik yang berasal dari kampus ini menjadi berita utama media massa di Indonesia.
Opini publik menampakkan kekuatan yang besar sekali sebagai sarana pemersatu atau kesatuan menghadapi segala sesuatu yang dianggap tidak berjalan sebagaimana mestinya di negara Indonesia. Opini para mahasiswa di kampus-kampus terkenal, baik PTN maupun PTS menjadi perhatian utama untuk pemegang kebijaksanaan pemerintahan Negara Indonesia. Suara atau opini publik kampus, menjadi pemberitaan di media massa pers baik surat kabar, majalah-majalah berita, ataupun internet. Demikian juga pada media massa televisi, hampir setiap stasion televisi swasta menayangkan gerakan mahasiswa di kampus-kampus yang berisi pernyataan mereka dalam menghadapi krisis kepercayaan terhadap pemerintah. Opini mahasiswa ini adalah opini publik kampus menghadapi situasi ekonomi, politik, & sosial-budaya yang melanda Indonesia. Krisis kepercayaan pada pemerintah ini tidak dapat membentuk opini publik keseluruhan masyarakat yang menaruh perhatian pada situasi yang berat di negara Indonesia. Opini publik yang berasal dari gerakan mahasiswa ini merupakan kekuatan yang patut diperhatikan oleh pemerintah dengan aparaturnya dalam menentukan kebijaksanaan yang tepat untuk mengatasi segala permasalahan yang melanda negara Indonesia. Keputusan yang tepat yang akan diambil pemerintah, patut memperhatikan kekuatan opini publik yang berasal dari gerakan mahasiswa. Opini publik yang berasal dari kampus jangan dicurigai sebagai sesuatu yang membahayakan, tetapi pemerintah perlu memasukkan sebagai suatu masukkan yang berharga.
Secara lebih spesifik berikut akan dijelaskan bagaimana kekuatan opini publik secara sosiologis, psikologis, & politis.

1. Kekuatan opini publik secara sosiologis
Manusia sebagai makhluk sosial sudah tentu akan berhubungan dengan manusia yang lain, baik sebagai pribadi maupun dalam kelompok bersama dengan individu atau kelompok-kelompok lainnya. Dalam kehidupannya sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu memelihara, meningkatkan kehidupan yang harmonis di antara sesamanya. Sebagai anggota masyarakat manusia akan juga meningkatkan kerja sama dengan manusia lain sebagai anggota kelompok atau organisasi, dalam mencapai tujuannya meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Tindakan-tindakan manusia dalam memelihara kehidupan itu akan berpengaruh pada kehidupannya sebagai anggota masyarakat. Karena itu dalam berhubungan dengan manusia lain, tindakan-tindakan manusia itu perlu memperhatikan lingkungan & akan memperhatikan lingkungan yang berhubungan dengan permasalahan yang timbul. Hal itu terjadi mengingat tiap manusia mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan yang muncul. Pengaruh kelompok atau organisasi juga akan turut mewarnai pandangannya terhadap masalah-masalah yang menimpanya, apalagi kalau masalah itu mengandung hal yang kontroversial. Persoalan atau masalah yang dapat menimbulkan bermacam opini itu biasanya yang menyangkut kepentingan umum, seperti yang terjadi saat sekarang di Indonesia. Krisis tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan masalah lainnya, karena krisis itu juga menimbulkan pengaruh pada bidang-bidang lainnya. Sastroputro menyatakan bahwa perbedaan pandangan manusia itu bila mana orang berbicara tentang:
1. Demokrasi,
2. kehidupan yang layak,
3. keputusan yang adil,
4. kemakmuran yang tinggi,
5. hidup/pesta sederhana,
6. batas kenakalan remaja yang wajar,
7. harga-harga yang murah,
8. & sebagainya (Sastroputro, 1987, 118).
Masalah-masalah tersebut jika muncul atau dibicarakan orang, hampir semuanya bisa mendatangkan perbedaan-perbedaan opini. Persoalan sembilan bahan pokok yang akhir-akhir ini mengalami kenaikan yang sampai dua-tiga kali lipat, kecuali merupakan masalah ekonomi, dampaknya menyangkut berbagai masalah sosial yang meresahkan rakyat. Kurs Dollar A.S. terhadap Rupiah yang sampai saat ini tidak menentu menyebabkan nilai Rupiah sangat lemah sehingga harga barang-barang impor seperti suku cadang kendaraan bermotor, barang-barang elektronika, bahan baku yang diperlukan industri dasar terutama bahan baku obat-obatan, plastik, & lain sebagainya naik sangat tajam. Akibat yang dirasakan dengan kenaikan harga barang-barang itu berdampak sosial yang sangat dalam. Dengan banyaknya pabrik-pabrik yang tidak sanggup lagi memproduksi barang-barang karena kesulitan mendatangkan bahan baku & L/C yang datang dari pengusaha-pengusaha atau bank di Indonesia tidak diterima atau ditolak, sedangkan untuk membeli secara tunai tidak ada dananya. Hal ini menyebabkan banyak pabrik mengkhawatirkan produksinya, & dampaknya adalah PHK pegawai. Pemutusan hubungan kerja ini dampaknya secara sosial sangat terasa. Persoalan ini menyebabkan timbulnya opini di kalangan masyarakat, yang secara sosiologis tidak bisa selesai dalam waktu tiga-empat bulan. Timbulnya opini dalam mengatasi permasalahan ekonomi, mengundang banyak opini-opini lain di kalangan para pakar. Opini para pakar itu menyebabkan pembentukan opini yang lebih besar sehingga melahirkan opini publik yang sesuai dengan cara pandang & pendekatan masing-masing latar belakang keilmuan para pakar itu sendiri. Hal ini dapat dipahami karena tiap individu mempunyai alasan masing-masing dalam menanggapi masalah yang muncul dalam masyarakat. Jika opini kelompok tertentu diyakini sebagai opini yang dirasakan benar oleh individu dalam masyarakat, maka akan menjadi opini publik yang kuat & akhirnya dapat diterima berbagai pihak atau kelompok lainnya. Opini publik yang didukung oleh kelompok-kelompok lain di luar kelompoknya sendiri, ini akan memberikan kekuatan terhadap individu atau kelompok dalam meresponsi permasalahan yang ada. Sementara persoalan itu sendiri sampai saat ini belum terpecahkan, imbasnya di bidang sosial makin terasa, & ini menyebabkan timbul kembali permasalahan-permasalahan sosial & budaya yang lain. Karena itu opini publik secara sosiologis mempunyai kekuatan yang kuat di masyarakat karena tiap individu atau kelompok masing-masing akan berhubungan & saling berinteraksi satu sama lain.

2. Kekuatan opini publik secara psikologis
Opini publik menurut Dubb merupakan sikap orang-orang mengenai suatu soal. Sikapnya itu adalah sikap manusia selaku pribadi maupun kelompok (S. Soenarjo, 1997, 28). Dari pendapat Dubb tersebut jelas bahwa dalam sikap seseorang itu pasti akan turut berpengaruh keseluruhan latar belakang orang tersebut. Dengan demikian itu berarti jika seseorang akan melahirkan opini terhadap suatu permasalahan, maka sikap orang tersebut adalah hasil dari rangsangan dari dalam manusia itu sendiri, sehingga apapun dari orang itu, misalnya pendidikan, pengalaman, perasaan, & pengetahuannya akan turut memberi warna terhadap opininya. & opini yang dihasilkan dari sekumpulan orang itu akan menjadi opini publik orang-orang itu. Astrid Soesanto (1975) menyatakan bahwa manusia pada umumnya mempunyai keinginan untuk mendasarkan tindakannya sebanyak mungkin atas pendapat umum (opini publik). Selanjutnya Soesanto menyatakan bahwa antara opini publik & sikap-sikap pribadi mempunyai hubungan yang erat. Pengalaman pribadinya menentukan sikap & sikapnya itu bergantung juga pada pengalaman masyarakatnya sendiri, yaitu lingkungan yang memberi pada individu norma-norma tentang segala sesuatu yang benar & salah. Jadi secara psikologis sikap seseorang itu akan mempengaruhi segala opini yang dihasilkannya. Opini publik baru muncul jika ada permasalahan atau persoalan yang menyangkut kepentingan orang banyak/kelompok tertentu. Masalahnya itu sendiri yang menghendaki pemecahan yang segera, karena jika masalah yang timbul itu tidak diselesaikan akan menyebabkan masalah-masalah lain yang lebih rumit & menimbulkan masalah lain yang lebih kompleks. Permasalahan yang menyebabkan adanya individu-individu yang merasa kurang puas atau tidak senang terhadap masalah yang muncul itu mengakibatkan timbulnya opini yang juga bermacam-macam. Opini yang timbul bergantung pada luas tidaknya masalah, menyangkut kepentingan orang banyak atau individu tertentu dalam hubungannya selaku makhluk sosial yang bermasyarakat. Opini yang timbul dari individu mengenai suatu kejadian atau masalah-masalah lain, biasanya akan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal yang ada pada diri komunikator seperti; pendidikan, pengalaman, status diri, penghasilan. asal dirinya, dst. Sehubungan dengan itu secara psikologis opini seseorang itu kekuatannya bergantung kepada orang lain yang diajak berdiskusi atau dikemukakan pada kelompok yang lebih besar. Seandainya kelompok yang lebih besar itu mau menerima atau meyakini opini itu benar, sebagai suatu pikiran yang telah diterima sebagai pikiran umum, maka opini itu akan menjadi opini publik. Opini publik yang terbentuk itu akan mempunyai kekuatan yang besar, apa lagi orang yang mempunyai opini itu dari lapisan tertentu misalnya pemuka pendapat atau orang-orang yang dianggap mempunyai kredibilitas tertentu dalam masyarakat. Sebaliknya jika seseorang mempunyai pengetahuan mengenai suatu masalah & dapat mempertanggungjawabkan buah pikiran mengenai sesuatu masalah tersebut & ia tak ada kesempatan untuk mengemukakan kepada orang lain, maka ia akan menyimpan suatu perasaan tidak enak atau tidak terpuaskan hatinya. Memang seharusnya suatu opini yang hendak dikemukakan sebelum diutarakan perlu mempertimbangkan juga opini atau pendapat orang lain. Opini yang akan dikemukakan sudah sepatutnya perlu dipikirkan terlebih dahulu, sehingga jika bertentangan dengan yang berlaku umum dapat dihindari. Sebaliknya juga jika sesuai dengan kaidah-kaidah umum, sehingga apa yang dikemukakan itu mendapat tanggapan yang positif itu memperlihatkan bahwa opininya bermutu. Dengan mempelajari opini publik seseorang dapat menentukan atau memperkirakan tindakan apa yang perlu dilakukan, sehingga kehati-hatian perlu dipertimbangkan.
Dengan demikian secara psikologis opini publik itu sebenarnya sangat dipengaruhi oleh pribadi-pribadi yang mempunyai kedudukan atau tempat dalam organisasi profesi atau lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sikap & perilaku dari seseorang yang mempunyai kedudukan yang baik dalam organisasi profesi jika bisa memanfaatkan situasi & berlaku jujur dalam profesinya akan sangat dihargai & dihormati oleh segenap anggota masyarakat. Karena itu apapun tugas pekerjaan yang diemban seseorang jika dilakukan dengan berpijak pada kepentingan umum, apapun opini yang dikeluarkannya akan dianggap mewakili profesi di belakangnya. Ini berarti bahwa opini publik yang dihasilkannya akan sangat mempunyai kekuatan yang penting.

3. Kekuatan opini publik secara politis
Opini publik dalam lingkup kegiatan politik dapat dibentuk oleh perilaku tokoh-tokoh politik. Kemampuan berkomunikasi para tokoh politik merupakan kunci pokok keberhasilan membentuk opini publik di berbagai lapisan masyarakat. Pihak pemerintah tentu selalu menginginkan adanya opini publik yang mendukung segala kebijakan pemerintah karena dengan segala usaha akan selalu menciptakan suasana seperti yang diharapkannya. Hal itu dilakukan pemerintah agar masyarakat pada umumnya tetap mendukung & melaksanakan semua program yang telah disiapkan & ditetapkan melalui undang-undang (U.U.).
Pemerintah mengharapkan agar publik yang mempunyai kekuatan dalam opininya tetap berpihak & mau menjalankan segala sesuatu yang berhubungan dengan segala usaha pembangunan. Opini dari publik-publik yang dominan dalam masyarakat yang kemudian menjadi opini publik khusus atau tertentu itu perlu dipelihara, dibina, & dipupuk agar tetap dapat mendukung pemerintah. Publik yang dimaksud dalam kegiatan politik misalnya: kaum cendekiawan yang kebanyakan berasal dari kampus, kaum profesional sesuai dengan bidangnya, pemuka-pemuka agama dengan organisasi keagamaanya, & kaum wanita dengan organisasinya yang cukup banyak. Saat sekarang ini adalah para mahasiswa dari berbagai kampus baik negeri maupun swasta dengan organisasi kemahasiswaannya, & banyak lagi yang lain yang bisa melahirkan opini sesuai dengan publiknya.
Opini dari publik-publik khusus tersebut tidak bisa diabaikan oleh pemerintah yang sedang membangun seperti Indonesia, apa lagi dalam keadaan krisis seperti saat sekarang. Menyepelekan opini dari mereka bisa mengakibatkan kurangnya dukungan dari publik-publik tersebut. Opini publik dari kelompok-kelompok khusus itu muncul begitu saja, karena itu pemerintah sebenarnya perlu bersyukur, dengan tidak mengeluarkan biaya, mendapatkan masukan-masukan dari masyarakat melalui kelompok-kelompok khusus tersebut. Pemerintah dengan aparat terkait tinggal meneliti & mempelajari opini-opini itu, kemudian menyusun program perbaikan atau cara-cara penanggulangan dengan segera. Respons yang positif dari pemerintah secara terbuka diperlukan agar publik yang memberikan opininya merasa diperhatikan. Memang ada opini publik dari kelompok-kelompok khusus itu tidak selamanya didukung oleh fakta yang benar, itu tidak menjadi persoalan karena opini itu bukan suatu fakta, maka kebenarannya perlu diteliti. Adanya masukan itulah yang perlu diperhatikan pemerintah, karena untuk opini yang faktual & tepat, harus diciptakan & pasti mengeluarkan biaya. Sebenarnya di Indonesia ba& yang memberi masukan bagi pemerintah sudah ada misalnya DPA, juga DPR jika berfungsi dengan baik dapat memperhatikan opini publik dari kelompok-kelompok khusus itu, hingga dalam membuat U.U. yang menjadi pekerjaannya juga memperhatikan aspirasi rakyat yang disalurkan melalui organisasi-organisasi kemasyarakatan yang memberi masukkan. Opini publik secara politis walaupun tidak selalu berdasarkan fakta & tidak berdasarkan diskusi di antara publik-publik yang ada dalam masyarakat, apa lagi diskusi sosial di antara publik-publik tertentu misalnya para mahasiswa terhadap keadaan ekonomi negara, tetap secara moral memiliki kekuatan yang diyakini oleh segenap lapisan masyarakat. Secara kualitas opini publik dari kampus ini memang mungkin kurang berdasarkan pemikiran yang matang, karena memang opininya berasal dari tindakan atau pemikiran yang spontan. Pemikiran spontan itu tidak berarti kurang mutunya, karena para mahasiswa mengeluarkan opininya berdasarkan “waktu” yang cukup lama merenungi masalah yang muncul dalam masyarakat. Karena itu sewajarnya pemikiran yang berbentuk opini publik kampus itu mendapat tempat bagi pengambil keputusan dalam membuat kebijakan atau keputusan dalam menanggapi situasi yang melanda negara, lebih-lebih situasi yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia yang mengalami krisis. Sudah barang tentu walaupun opini publik kampus itu terjadi dengan spontan, tetapi jika itu berlangsung hampir di kota-kota besar yang memiliki perguruan tinggi, selayaknya diyakini sebagai usaha para mahasiswa yang ingin melihat negaranya maju & terbebas dari krisis.
Opini publik kampus tidak & bukan satu-satunya yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Sebab ternyata yang memiliki perhatian terhadap negara dalam krisis seperti di Indonesia ini juga dari publik-publik lain, misalnya dari lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya seperti dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Lembaga ini terus memperjuangkan nasib para konsumen di Indonesia. Djoenaesih Sunarjo (1987, 81) mengemukakan secara politis mengapa opini publik dipelajari, karena bagi politisi akan mengetahui apa yang diinginkan oleh lawan politiknya didukung atau tidak oleh pengikutnya & bahkan politiknya dapat digunakan untuk menekan lawan. Sebaliknya dengan adanya opini publik akan diketahui pikiran atau siasat dari lawan atau saingan.
Mempelajari kekuatan opini publik seperti yang telah diutarakan, baik secara sosiologis, psikologis, maupun politis mempunyai banyak keuntungan dari pada kerugian, sekalipun yang namanya opini publik menurut Adinegoro (dalam Sunarjo, 1987, 27) tidak berdasarkan pemikiran yang masak atau kurang berpikir jauh ke depan, tidak ada organisasinya, tidak ada pimpinannya & tidak bergerak cepat, tetapi jika dilihat dari kefaktualannya artinya sudah terjadi kejadiannya, maka opini publik memberikan manfaat-manfaat yang cukup banyak. Sastroputro (1987, 119-123), memperinci kekuatan opini publik, sbb.:
1. Opini publik dapat menjadi suatu hukuman sosial terhadap orang atau sekelompok orang yang terkena hukuman tsb.
2. Opini publik sebagai pendukung bagi kelangsungan berlakunya norma sopan santun & susila, baik antara yang muda dengan yang lebih tua maupun antara yang lebih muda dengan sesamanya.
3. Opini publik dapat mempertahankan eksistensi suatu lembaga atau bahkan bisa juga menghancurkan suatu lembaga.
4. Opini publik dapat mempertahankan atau menghancurkan suatu kebudayaan.
5. Opini publik dapat pula melestarikan norma sosial.
(c)Eddy Yehuda

Opini Publik

April 12, 2008

Opini Publik
Eddy Yehuda, Drs.,M.S. <Eddy-Yehuda@YAHrapha.web.id>

Penilaian sosial adalah bagian dari opini publik, karena suatu permasalahan biasanya hangat dibicarakan orang. Kekuatan opini publik dapat dijelaskan secara sosiologis, psikologis & politis. Perbedaan pandangan manusia biasanya bila menyangkut masalah-masalah: demokrasi, kehidupan yang layak, keputusan yang adil, kemakmuran, hidup sederhana, kenakalan remaja, harga sembako yang murah, dsb.
Opini publik & sikap pribadi mempunyai hubungan yang erat, karen itu pengalaman pribadi seseorang akan menentukan sikapnya, yang juga dipengaruhi norma-norma yang hidup pada masyarakatnya. Opini publik dalam lingkup kegiatan politik dibentuk oleh perilaku tokoh-tokoh politik yang ada di sekitarnya. Opini publik kampus perlu dicermati oleh kelompok-kelompok atau publik yang ada pada masyarakat, sebab umumnya mereka beropini, merupakan bentuk kepedulian terhadap masalah-masalah yang ada pada masyarakat.
Opini publik mengenai permasalahan apa saja, seperti berbagai masalah yang ada pada masyarakat, tokoh-tokoh penting yang dibicarakan di suatu negara, produk-produk yang dikonsumsi massa, & lembaga-lembaga negara yang dibicarakan masyarakat baru berarti jika sudah dimuat, disiarkan, dicetak, & disebarluaskan oleh media massa.
Media adalah alat atau sarana yang digunakan seseorang dalam penyampaian pesan kepada orang lain. Media massa adalah media yang dipakai dalam komunikasi massa, media massa tersebut misalnya televisi, radio, pers (surat kabar/majalah), internet, & film.
Ciri-ciri komunikasi massa:
1. Komunikasi ditujukan kepada massa.
2. Komunikasi dilakukan secara serempak.
3. Komunikatornya suatu organisasi/lembaga.
4. Pesannya bersifat umum.
5. Medianya disebut media massa yaitu bisa menjangkau orang banyak.
6. Umpan balik tidak langsung atau terlambat.
Opini publik yang dimuat, ditayangkan, & disiarkan media massa, karena pengaruhnya yang dapat memperkuat atau mendukung, & juga melemahkan atau mengancam posisi pemerintah, supaya tidak menimbulkan masalah, keberadaannya perlu diperhatikan pemerintah.
Kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang ditandai ciri-ciri kenal-mengenal antara anggota-anggotanya serta kerja sama erat yang bersifat pribadi.
Ada dua kelompok primer yang berbeda:
a. Kelompok yang kerja samanya erat seperti keluarga dan rukun tetangga.
b. Kelompok yang saling kenal-mengenal yang menekankan kepada sifat hubungan antar pribadi seperti simpati, kerja sama & sopan.
Ciri-ciri kelompok primer:
a. Secara fisik berdekatan.
b. Kelompoknya kecil.
c. Adanya hubungan antar anggota.
Setiap orang yang berpengaruh di masyarakat seperti para pemuka pendapat, biasanya opininya didengar orang.
(c)Eddy Yehuda